Sabtu, 01 November 2014

#1

     Sore ini begitu cerah, meskipun tidak berbeda dari sore-sore sebelumnya. Langitnya memerah. Burung-burung beterbangan. Aku tidak tahu namanya, tapi waktu kecil aku menggambarnya seperti huruf “M”. Sungguh menakjubkan. Mereka terbang berdampingan. Tak berpola, tetapi tetap indah.

     Aku menjatuhkan badan di kursi. Tanganku menyapu keringat di pipi. Meja di depanku masih berantakan. Tidak jauh berbeda dengan pikiranku, begitu juga hatiku. Mana mungkin, pikiran dan hati yang berantakan diminta untuk merapikan sesuatu.


     Mereka perlu diistirahatkan.


     Mereka perlu ditidurkan.


     Aku bekerja di lantai sepuluh gedung perkantoran di pusat kota. Di ruang kerjaku. Di posisiku, kamu bisa melihat betapa padatnya kota ini. Jalur dua arah dibatasi beton kondisinya padat merayap. Mobil hanya bergerak yang bahkan tidak lebih dari langkah orang dewasa. Aku bisa merasakan, betapa kesalnya pengemudi di dalamnya. Gas, kopling, rem diinjak bergantian. Kakinya pasti pegal, sampai rumah kakinya minta dipijat.


     Pengendara motor saling mendahului, tidak beraturan jalurnya, mereka sudah tidak sabar untuk sampai di rumah, bertemu keluarga tercinta. Pengendara motor merayap di celah-celah antar mobil, ada juga yang sampai naik ke trotoar. Pejalan kaki tersudut, mereka berjalan mepet sekali dengan kios-kios di pinggir jalan.


     Klakson berbunyi nyaring. Seperti biasa, angkot suka belok mendadak, entah menurunkan penumpang atau mengangkut. Aku bisa melihat, supirnya santai sekali mendengar klakson, seperti tidak terjadi apa-apa. Begitulah kondisi angkot di kota ini, aku yakin kondisi serupa terjadi di kotamu juga.


     Aku sangat beruntung sekali bekerja di lantai sepuluh, karena aku bisa leluasa memandang apa yang ada di depanku. Apalagi di depan gedung kantorku terdapat taman kota. Hijaunya pepohonan menyegarkan mata. Cuci mata, begitulah bahasaku. Untuk kota Metropolitan dengan sejuta kegiatan setiap harinya, taman kota layaknya sebuah sumber air di luasnya padang gurun. Kota besar memang perlu taman kota, karena siapa yang akan menetralisir polusi udara kalau bukan pepohonan. Ibu Walikotaku lulusan Perencanaan Tata Kota kampus ternama di negeri ini, pastilah beliau tahu harus diapakan kota ini.


     Gedung tinggi menjulang berjejer, seakan menantang ketinggian langit. Seperti di samping taman kota. Berdiri gagah gedung perkantoran Bank terkemuka di negara ini. Bank yang layanan ATM-nya ada di mana-mana. Tembok depan bangunan memakai kaca yang hanya bisa melihat dari dalam ke luar. Bisa memandang tak bisa dipandang. Beberapa karyawan keluar dari gedung, waktunya pulang. Wajah mereka begitu ceria, besok libur. Pembukuan memaksa mereka masuk kantor di hari Sabtu. Aku sudah biasa hari Sabtu tetap bekerja.


     Sudah sepuluh menit aku hanya duduk memandang ke luar kaca. Teman-temanku sudah sibuk membersihkan meja dari kertas berisi angka dan tabel. Setiap akhir pekan pekerjaan seperti lebih banyak dari biasanya, ada juga yang sampai dibawa pulang. Seperti anak sekolah saja, ada homework. Terkadang temanku mengeluh bosan dengan kerja kantoran. Lihat temannya kerja lapangan merasa asyik sepertinya. Apa dia tidak pernah tahu kalimat orang tua dulu. Urip mung sawang sinawang, yang kita lihat belum tentu seenak ketika menjalaninya.

     Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul lima sore.


     Lampu jalan sudah mulai dinyalakan.


     Satu-dua orang pamit kepadaku. Pekerjaannya selesai.


     Aku sudah biasa menjadi orang terakhir yang keluar dari gedung ini. Kadang sampai security gedung mengingatkan. Tidak lembur, tidak ada pekerjaan. Aku hanya mencari ketenangan. Pemandangannya juga bagus. Sebelum malam datang, mataku dimanjakan oleh senja. Merahnya selalu merona. Sampai aku sering menulis tentang senja, nanti aku tuliskan di sini untukmu. Ketika malam datang. Jalanan terang oleh lampu dari kendaraan. Ditambah lampu jalan di sepanjang mata memandang.


     “Sampai malam lagi, Mbak?” seorang office boy yang sedang lewat menegurku. Dia sedang membersihkan ruangan kantor. Setiap dia lewat selalu pertanyaan itu yang ditanyakan. Jawabanku dari pertama dia bertanya sampai sekarang pun sama. Hanya anggukan dan senyum tipis.


     Aku tidak berniat untuk beranjak dari sini. Aku masih ingin menyendiri dan melihat jalanan. Lihatlah, waktu sudah pukul enam petang. Jalanan semakin padat. Bahkan mobil tidak bergerak sama sekali. Pengendara motor banyak yang merapat ke kios pinggir jalan. Sekedar untuk singgah sebentar. Menunggu kemacetan sedikit mereda. But hey, bisa sampai larut malam kalau harus menunggu kemacetan mereda, tapi untuk pengendara yang baru merapat beda lagi. Dua orang turun dari motor. Lelaki dan perempuan. Mereka sepertinya pasangan sekantor. Pakaian yang mereka kenakan sama. Untuk yang berpasangan, sepertinya menunggu bukan hal yang menyebalkan. Menunggu sambil minum-minuman botol dan bercanda gurau. Dunia milik berdua. Macet sampai besok pun tak apa. Tidak masalah.


     Sudah pukul enam tiga puluh tepat.


     Aku masih melihat keluar jendela. Sekarang lebih fokus melihat ke arah taman kota. Betapa ramainya. Aku hampir lupa, sekarang malam minggu. Seperti lirik lagu dangdut, malam minggu malam yang panjang. Memang benar, setelah seminggu kehidupan hanya kantor-pulang-kantor lagi, seakan hidup sudah kebeli pekerjaan. Malam minggu seperti inilah yang menjadi malam hiburan bagi warga kota ini.


     Pada malam-malam tertentu, pemerintah kota ini menyediakan hiburan rakyat, entah itu musik atau wayang. Waktu itu aku pernah menonton wayang bersamanya. Ketika itu diceritakan kisah dua sejoli yang melegenda sampai sekarang, Rama dan Sinta. Di mana Rahwana, Raja negeri Alengka, sangat ingin memperisteri Sinta. Sedangkan pada saat itu, Sinta sudah menjadi istri Rama. Tekad Rahwana untuk mempersunting Sinta sudah bulat, tidak peduli dengan status Sinta yang telah menjadi istri Rama. Cara jahat pun diambil oleh Rahwana, dengan cara menculik Sinta. Rencana itu pun berhasil, Rahwana berhasil menculik Sinta.

     
     Selama tiga tahun Sinta disekap oleh Rahwana. Selama tiga tahun itu pula Sinta dirayu dan digoda untuk menjadi permaisurinya. Segala daya dan upaya diluncurkan Rahwana untuk meluluhkan hati Sinta, agar setuju untuk dijadikan permaisuri, tetapi Sinta selalu menolaknya. Sinta tidak peduli dengan harta, tahta, dan kesenangan yang ditawarkan oleh Rahwana. Sinta tetap memegang teguh janji masa depannya dengan Rama, suaminya. Sinta selalu berharap Rama akan menyelamatkannya. Setelah penantian lama. Akhirnya takdir meng-amini harapan Sinta. Rama berhasil menyelamatkan Sinta dengan bantuan Hanuman dan Wibisana- Adik Rahwana yang membelot ke pasukan Rama. Rahwana akhirnya terbunuh dalam suatu pertempuran di Alengka. 
     
     Pantas sajalah kisah mereka sangat melegenda di negeri ini. Bagaimana tidak? Bisa dilihat dari kesetiaan Sinta kepada Rama. Begitu juga dengan perjuangan Rama untuk menyelamatkan Sinta. Saat itu aku tidak menonton sampai akhir cerita. Dia sudah mengajakku pulang. Bisa sampai pagi kalau menunggu selesai, katanya. Setelah menonton pertunjukan wayang itu. Sebagai wanita, wajarlah kalau aku mendambakan seorang pria seperti Rama. Seorang pria dengan segala tekadnya memperjuangkanku. Memperjuangkan janji masa depan untuk selalu di sampingku. 

     “Mbak. Maaf sebelumnya. Sudah jam tujuh, gedung sudah harus dikosongkan.” Lamunanku buyar saat security gedung menegurku. Untuk kesekian kalinya, aku diminta untuk segera meninggalkan gedung. Entah kenapa, kantorku memiliki kebijakan, karyawan lembur hanya sampai jam tujuh malam, tidak boleh lebih. Alasannya agar karyawan segera pulang dan istirahat, karena besok harus bekerja kembali. Bukannya besok Minggu. Hari libur?

     
     Aku meminta waktu lima menit, untuk merapikan meja dan tas. Security-nya baik. Mengijinkan. Sebelum aku meninggalkan meja kerjaku. Aku melihat dua remaja sedang bermesraan di sebuah bangku di taman kota depan kantorku.

     Iya, di bangku taman itu.


     Di bangku tempatku dulu bermesraan dengan dia. Dia yang berkata di hatinya hanya ada aku seorang. Tanpa ragu aku percaya. Seseorang yang penting dalam ceritaku ini.

Rabu, 21 Mei 2014

Ingatlah Aku

Aku sendiri di sini, jauh darimu
Kamu, semakin hari semakin jauh dariku
Entah, aku yang menjauh atau kamu yang melupakanku
Aku tidak tahu

Timbul pertanyaan dalam benakku

Apakah waktu telah mengikis ingatanmu tentangku?
Aku tidak tahu
Tapi, dulu kamu pernah bilang akan selalu mengingatku
Dulu kamu pernah bilang begitu, dulu

Apakah hal baru di hidupmu telah sempurna menggantikanku?
Aku tidak tahu
Tapi, dulu kamu pernah bilang akan selalu bersamaku
Dulu kamu pernah bilang begitu, dulu

Aku telah pergi, menjadi jiwa yang hampa
Tapi, tidak dengan segala rasa yang kupunya
Tahu kah kamu, di sini aku tetap memandangimu saat kamu terlelap sejak hari itu?
Kamu pasti tidak tahu
Tahu kah kamu, di sini aku tetap mencintaimu walau aku merasa kamu semakin jauh dariku?
Kamu pasti tidak tahu

Ingatlah bahwa aku tetap mencintaimu, mencintaimu hingga dihabiskan masa akan rasaku padamu
Ingatlah bahwa aku tetap memandangimu dari tempatku, tempat di mana suatu saat nanti kita akan bertemu

Aku selalu berharap kamu mengingatku
Tidak banyak, hanya lima kali sehari setelah salam terakhirmu
Selipkan sedikit kebaikan untukku dalam doamu
Karena saat itulah kamu berada dekat dengan Tuhanmu. Tuhanku

Ingatlah aku

Senin, 03 Februari 2014

Senja

Di bawah langit senja, ada yang menunggu dengan setia, dipenuhi segala asa. Pada pendar senja aku menuliskan kita— yang malu saling sapa saat pertama dan pada akhirnya menimang rasa. Senja, kita, berdua; bahagia. Boleh menuliskan tentang senja hari ini? Sayangnya, tertutup mendung lagi. Entah ini senja keberapa— dengan rasa yang terbilang sama, rindu semakin menghujam dada. Hujan dan senja, sebab mendung penutup pendar dari jingga. Ada yang mengenang ketika mereka menyapa, sembari menolak kembali terluka. Hujan dan senja. Kuberikan untukmu degub dada kiriku. Tapi itu dulu, sekarang semua bagaikan butiran debu, dan kusebut sebagai masa lalu. Senja tak begitu cerah, meskipun tak tertutup oleh mendung. Berbanding terbalik dengan kita, dengan segala rasa yang tak terbendung. Senja dan dia, kesatuan indah dalam rona, tempatku merajuk manja, bahkan dalam duka. Senja tak pernah murung ketika mendung menutup ronanya. Tak usah kau bawa keluh, rindu— cukuplah goresan di dada kiriku olehmu. Bias senja, sinar ronanya menembus kaca, menyentuh lembut kulit wajah, dia yang terindah. Senja di ujung samudra, memberikan kehangatan bagi yang suka padanya. Cinta di jiwa manusia, memberikan ketenangan bagi yang baik padanya. Aku adalah senja, dan kau adalah jingga yang membuatku merona. Senja jatuh terbenam di ufuk barat, begitu juga kita yang jatuh dalam bahagia hingga pekat. Hujan tak kunjung reda, senja pun tak akan tiba. Sudahi saja senja hari ini. Dan biarkan aku terus merindumu lagi dan lagi. Hujan rintik kala senja. Aku dan kamu merajuk manja, menimang bahagia. Hujan reda saat Maghrib tiba, tanda-tanda kuasa-Nya. Seperti sesaat waktu senja, saling-pandang kita berdua. Sudah berapa senja yang kita lewati, sembari menatap rona jingga menari-nari menunggu empunya hati. Puaskan tatapmu akan senja sore hari, sebelum terlambat dan semua tak terbawa oleh mati. Aku dan langit senja, ada di rona jingga di antaranya, seperti kita yang terpisah rindu membuncah, dalam dada. Aku kehabisan kata rindu, kamu tengok saja senja di langitmu, sudah kutuliskan semua debar dada kiriku. Kita bertemu senja lagi. Bagaimana kabar hati yang sedang menanti? Sudahkah ditinggali, atau hanya sebatas disinggahi? Senja, tempat para pecinta menitipkan rindu yang berkecambuk di dalam dada. Rindu yang tak pernah sampai, rindu yang tak kunjung usai. Senja, sejenak sebelum malam tiba. Malam tempatku bermimpi, pertemukan aku dengan apa-apa yang tak membiarkanku sendiri; kamu. Lewat matamu aku melihat senja yang begitu mempesona. Bolehkah aku rebah disana, seraya menimang bahagia? Senja. Datangnya tak pernah lama, hanya 47 detik saja. Dan kamu, pergi hanya sebentar, tapi rindu sudah menampar-nampar. Saat senja memberi kehangatan. Jemari kita beradu dari kejauhan, merapatkan kedekatan, merajut kebahagiaan. Senja. Kubiarkan sinar senja membelai wajahmu, selebihnya hanya aku yang memelukmu. Senja begitu malu untuk menyapa, tertutup mendung di cakrawala. Tak perlu banyak kata dan makna, mencintalah dengan sederhana. Senja di ujung samudra, memberikan kehangatan bagi yang suka padanya. Cinta di jiwa manusia, memberikan ketenangan bagi yang baik padanya. Senja di ufuk cakrawala, menyajikan keindahan bagi yang melihatnya. Cinta di hati manusia, memberikan kebahagiaan bagi yang merasakannya. Bernama senja, indah sinarnya. Secercahnya kuapit untukmu, yang akan menambah indah tatapan matamu, kepadaku. Senja datang tak pernah bosan dipandang. Berjalanan bersama bayang yang masih diangan. Senja. Mengingatkan ku akan kamu. Seketika aku merasa rindu, masa yang berlalu. Senja. Keindahan yang tak berkata, tak tertulis. Tak heran, para pecinta menitipkan rindu padanya. Pernah ada senja dahulu. Senja yang begitu memikat takjubku. Senja yang pergi tak terburu; Indah matamu. Senja. Semacam perpisahan yang indah. Seandainya, semua perpisahan seindah senja. Indahnya senja terbalut rindu. Ketika hanya ada bayangmu, dalam renungku. Merindu di batas senja. Menahan segala rasa. Aku disini untuk setia. Menunggu dengan luka. Kubawa sinar senja untukmu. Agar kamu tahu, ada aku, yang merindumu. Hingga dalam. Berjalan perlahan melirik keluar jendela. Senja bersinar indahnya, menyeret awan dalam pendar jingganya. Ketika senja. Hanya satu hal yg ingin ku lakukan ketika bersamamu: Memeluk dan Mencium keningmu dan berkata "I love you".
 
 
Copyright 2011 by Idhamsyah