Sore ini begitu cerah, meskipun tidak berbeda dari sore-sore sebelumnya. Langitnya memerah. Burung-burung beterbangan. Aku tidak tahu namanya, tapi waktu kecil aku menggambarnya seperti huruf “M”. Sungguh menakjubkan. Mereka terbang berdampingan. Tak berpola, tetapi tetap indah.
Aku menjatuhkan badan di kursi. Tanganku menyapu keringat di pipi. Meja di depanku masih berantakan. Tidak jauh berbeda dengan pikiranku, begitu juga hatiku. Mana mungkin, pikiran dan hati yang berantakan diminta untuk merapikan sesuatu.
Mereka perlu diistirahatkan.
Mereka perlu ditidurkan.
Aku bekerja di lantai sepuluh gedung perkantoran di pusat kota. Di ruang kerjaku. Di posisiku, kamu bisa melihat betapa padatnya kota ini. Jalur dua arah dibatasi beton kondisinya padat merayap. Mobil hanya bergerak yang bahkan tidak lebih dari langkah orang dewasa. Aku bisa merasakan, betapa kesalnya pengemudi di dalamnya. Gas, kopling, rem diinjak bergantian. Kakinya pasti pegal, sampai rumah kakinya minta dipijat.
Pengendara motor saling mendahului, tidak beraturan jalurnya, mereka sudah tidak sabar untuk sampai di rumah, bertemu keluarga tercinta. Pengendara motor merayap di celah-celah antar mobil, ada juga yang sampai naik ke trotoar. Pejalan kaki tersudut, mereka berjalan mepet sekali dengan kios-kios di pinggir jalan.
Klakson berbunyi nyaring. Seperti biasa, angkot suka belok mendadak, entah menurunkan penumpang atau mengangkut. Aku bisa melihat, supirnya santai sekali mendengar klakson, seperti tidak terjadi apa-apa. Begitulah kondisi angkot di kota ini, aku yakin kondisi serupa terjadi di kotamu juga.
Aku sangat beruntung sekali bekerja di lantai sepuluh, karena aku bisa leluasa memandang apa yang ada di depanku. Apalagi di depan gedung kantorku terdapat taman kota. Hijaunya pepohonan menyegarkan mata. Cuci mata, begitulah bahasaku. Untuk kota Metropolitan dengan sejuta kegiatan setiap harinya, taman kota layaknya sebuah sumber air di luasnya padang gurun. Kota besar memang perlu taman kota, karena siapa yang akan menetralisir polusi udara kalau bukan pepohonan. Ibu Walikotaku lulusan Perencanaan Tata Kota kampus ternama di negeri ini, pastilah beliau tahu harus diapakan kota ini.
Gedung tinggi menjulang berjejer, seakan menantang ketinggian langit. Seperti di samping taman kota. Berdiri gagah gedung perkantoran Bank terkemuka di negara ini. Bank yang layanan ATM-nya ada di mana-mana. Tembok depan bangunan memakai kaca yang hanya bisa melihat dari dalam ke luar. Bisa memandang tak bisa dipandang. Beberapa karyawan keluar dari gedung, waktunya pulang. Wajah mereka begitu ceria, besok libur. Pembukuan memaksa mereka masuk kantor di hari Sabtu. Aku sudah biasa hari Sabtu tetap bekerja.
Sudah sepuluh menit aku hanya duduk memandang ke luar kaca. Teman-temanku sudah sibuk membersihkan meja dari kertas berisi angka dan tabel. Setiap akhir pekan pekerjaan seperti lebih banyak dari biasanya, ada juga yang sampai dibawa pulang. Seperti anak sekolah saja, ada homework. Terkadang temanku mengeluh bosan dengan kerja kantoran. Lihat temannya kerja lapangan merasa asyik sepertinya. Apa dia tidak pernah tahu kalimat orang tua dulu. Urip mung sawang sinawang, yang kita lihat belum tentu seenak ketika menjalaninya.
Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul lima sore.
Lampu jalan sudah mulai dinyalakan.
Satu-dua orang pamit kepadaku. Pekerjaannya selesai.
Aku sudah biasa menjadi orang terakhir yang keluar dari gedung ini. Kadang sampai security gedung mengingatkan. Tidak lembur, tidak ada pekerjaan. Aku hanya mencari ketenangan. Pemandangannya juga bagus. Sebelum malam datang, mataku dimanjakan oleh senja. Merahnya selalu merona. Sampai aku sering menulis tentang senja, nanti aku tuliskan di sini untukmu. Ketika malam datang. Jalanan terang oleh lampu dari kendaraan. Ditambah lampu jalan di sepanjang mata memandang.
“Sampai malam lagi, Mbak?” seorang office boy yang sedang lewat menegurku. Dia sedang membersihkan ruangan kantor. Setiap dia lewat selalu pertanyaan itu yang ditanyakan. Jawabanku dari pertama dia bertanya sampai sekarang pun sama. Hanya anggukan dan senyum tipis.
Aku tidak berniat untuk beranjak dari sini. Aku masih ingin menyendiri dan melihat jalanan. Lihatlah, waktu sudah pukul enam petang. Jalanan semakin padat. Bahkan mobil tidak bergerak sama sekali. Pengendara motor banyak yang merapat ke kios pinggir jalan. Sekedar untuk singgah sebentar. Menunggu kemacetan sedikit mereda. But hey, bisa sampai larut malam kalau harus menunggu kemacetan mereda, tapi untuk pengendara yang baru merapat beda lagi. Dua orang turun dari motor. Lelaki dan perempuan. Mereka sepertinya pasangan sekantor. Pakaian yang mereka kenakan sama. Untuk yang berpasangan, sepertinya menunggu bukan hal yang menyebalkan. Menunggu sambil minum-minuman botol dan bercanda gurau. Dunia milik berdua. Macet sampai besok pun tak apa. Tidak masalah.
Sudah pukul enam tiga puluh tepat.
Aku masih melihat keluar jendela. Sekarang lebih fokus melihat ke arah taman kota. Betapa ramainya. Aku hampir lupa, sekarang malam minggu. Seperti lirik lagu dangdut, malam minggu malam yang panjang. Memang benar, setelah seminggu kehidupan hanya kantor-pulang-kantor lagi, seakan hidup sudah kebeli pekerjaan. Malam minggu seperti inilah yang menjadi malam hiburan bagi warga kota ini.
Pada malam-malam tertentu, pemerintah kota ini menyediakan hiburan rakyat, entah itu musik atau wayang. Waktu itu aku pernah menonton wayang bersamanya. Ketika itu diceritakan kisah dua sejoli yang melegenda sampai sekarang, Rama dan Sinta. Di mana Rahwana, Raja negeri Alengka, sangat ingin memperisteri Sinta. Sedangkan pada saat itu, Sinta sudah menjadi istri Rama. Tekad Rahwana untuk mempersunting Sinta sudah bulat, tidak peduli dengan status Sinta yang telah menjadi istri Rama. Cara jahat pun diambil oleh Rahwana, dengan cara menculik Sinta. Rencana itu pun berhasil, Rahwana berhasil menculik Sinta.
Selama tiga tahun Sinta disekap oleh Rahwana. Selama tiga tahun itu pula Sinta dirayu dan digoda untuk menjadi permaisurinya. Segala daya dan upaya diluncurkan Rahwana untuk meluluhkan hati Sinta, agar setuju untuk dijadikan permaisuri, tetapi Sinta selalu menolaknya. Sinta tidak peduli dengan harta, tahta, dan kesenangan yang ditawarkan oleh Rahwana. Sinta tetap memegang teguh janji masa depannya dengan Rama, suaminya. Sinta selalu berharap Rama akan menyelamatkannya. Setelah penantian lama. Akhirnya takdir meng-amini harapan Sinta. Rama berhasil menyelamatkan Sinta dengan bantuan Hanuman dan Wibisana- Adik Rahwana yang membelot ke pasukan Rama. Rahwana akhirnya terbunuh dalam suatu pertempuran di Alengka.
Pantas sajalah kisah mereka sangat melegenda di negeri ini. Bagaimana tidak? Bisa dilihat dari kesetiaan Sinta kepada Rama. Begitu juga dengan perjuangan Rama untuk menyelamatkan Sinta. Saat itu aku tidak menonton sampai akhir cerita. Dia sudah mengajakku pulang. Bisa sampai pagi kalau menunggu selesai, katanya. Setelah menonton pertunjukan wayang itu. Sebagai wanita, wajarlah kalau aku mendambakan seorang pria seperti Rama. Seorang pria dengan segala tekadnya memperjuangkanku. Memperjuangkan janji masa depan untuk selalu di sampingku.
“Mbak. Maaf sebelumnya. Sudah jam tujuh, gedung sudah harus dikosongkan.” Lamunanku buyar saat security gedung menegurku. Untuk kesekian kalinya, aku diminta untuk segera meninggalkan gedung. Entah kenapa, kantorku memiliki kebijakan, karyawan lembur hanya sampai jam tujuh malam, tidak boleh lebih. Alasannya agar karyawan segera pulang dan istirahat, karena besok harus bekerja kembali. Bukannya besok Minggu. Hari libur?
Aku meminta waktu lima menit, untuk merapikan meja dan tas. Security-nya baik. Mengijinkan. Sebelum aku meninggalkan meja kerjaku. Aku melihat dua remaja sedang bermesraan di sebuah bangku di taman kota depan kantorku.
Iya, di bangku taman itu.
Di bangku tempatku dulu bermesraan dengan dia. Dia yang berkata di hatinya hanya ada aku seorang. Tanpa ragu aku percaya. Seseorang yang penting dalam ceritaku ini.
Aku menjatuhkan badan di kursi. Tanganku menyapu keringat di pipi. Meja di depanku masih berantakan. Tidak jauh berbeda dengan pikiranku, begitu juga hatiku. Mana mungkin, pikiran dan hati yang berantakan diminta untuk merapikan sesuatu.
Mereka perlu diistirahatkan.
Mereka perlu ditidurkan.
Aku bekerja di lantai sepuluh gedung perkantoran di pusat kota. Di ruang kerjaku. Di posisiku, kamu bisa melihat betapa padatnya kota ini. Jalur dua arah dibatasi beton kondisinya padat merayap. Mobil hanya bergerak yang bahkan tidak lebih dari langkah orang dewasa. Aku bisa merasakan, betapa kesalnya pengemudi di dalamnya. Gas, kopling, rem diinjak bergantian. Kakinya pasti pegal, sampai rumah kakinya minta dipijat.
Pengendara motor saling mendahului, tidak beraturan jalurnya, mereka sudah tidak sabar untuk sampai di rumah, bertemu keluarga tercinta. Pengendara motor merayap di celah-celah antar mobil, ada juga yang sampai naik ke trotoar. Pejalan kaki tersudut, mereka berjalan mepet sekali dengan kios-kios di pinggir jalan.
Klakson berbunyi nyaring. Seperti biasa, angkot suka belok mendadak, entah menurunkan penumpang atau mengangkut. Aku bisa melihat, supirnya santai sekali mendengar klakson, seperti tidak terjadi apa-apa. Begitulah kondisi angkot di kota ini, aku yakin kondisi serupa terjadi di kotamu juga.
Aku sangat beruntung sekali bekerja di lantai sepuluh, karena aku bisa leluasa memandang apa yang ada di depanku. Apalagi di depan gedung kantorku terdapat taman kota. Hijaunya pepohonan menyegarkan mata. Cuci mata, begitulah bahasaku. Untuk kota Metropolitan dengan sejuta kegiatan setiap harinya, taman kota layaknya sebuah sumber air di luasnya padang gurun. Kota besar memang perlu taman kota, karena siapa yang akan menetralisir polusi udara kalau bukan pepohonan. Ibu Walikotaku lulusan Perencanaan Tata Kota kampus ternama di negeri ini, pastilah beliau tahu harus diapakan kota ini.
Gedung tinggi menjulang berjejer, seakan menantang ketinggian langit. Seperti di samping taman kota. Berdiri gagah gedung perkantoran Bank terkemuka di negara ini. Bank yang layanan ATM-nya ada di mana-mana. Tembok depan bangunan memakai kaca yang hanya bisa melihat dari dalam ke luar. Bisa memandang tak bisa dipandang. Beberapa karyawan keluar dari gedung, waktunya pulang. Wajah mereka begitu ceria, besok libur. Pembukuan memaksa mereka masuk kantor di hari Sabtu. Aku sudah biasa hari Sabtu tetap bekerja.
Sudah sepuluh menit aku hanya duduk memandang ke luar kaca. Teman-temanku sudah sibuk membersihkan meja dari kertas berisi angka dan tabel. Setiap akhir pekan pekerjaan seperti lebih banyak dari biasanya, ada juga yang sampai dibawa pulang. Seperti anak sekolah saja, ada homework. Terkadang temanku mengeluh bosan dengan kerja kantoran. Lihat temannya kerja lapangan merasa asyik sepertinya. Apa dia tidak pernah tahu kalimat orang tua dulu. Urip mung sawang sinawang, yang kita lihat belum tentu seenak ketika menjalaninya.
Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul lima sore.
Lampu jalan sudah mulai dinyalakan.
Satu-dua orang pamit kepadaku. Pekerjaannya selesai.
Aku sudah biasa menjadi orang terakhir yang keluar dari gedung ini. Kadang sampai security gedung mengingatkan. Tidak lembur, tidak ada pekerjaan. Aku hanya mencari ketenangan. Pemandangannya juga bagus. Sebelum malam datang, mataku dimanjakan oleh senja. Merahnya selalu merona. Sampai aku sering menulis tentang senja, nanti aku tuliskan di sini untukmu. Ketika malam datang. Jalanan terang oleh lampu dari kendaraan. Ditambah lampu jalan di sepanjang mata memandang.
“Sampai malam lagi, Mbak?” seorang office boy yang sedang lewat menegurku. Dia sedang membersihkan ruangan kantor. Setiap dia lewat selalu pertanyaan itu yang ditanyakan. Jawabanku dari pertama dia bertanya sampai sekarang pun sama. Hanya anggukan dan senyum tipis.
Aku tidak berniat untuk beranjak dari sini. Aku masih ingin menyendiri dan melihat jalanan. Lihatlah, waktu sudah pukul enam petang. Jalanan semakin padat. Bahkan mobil tidak bergerak sama sekali. Pengendara motor banyak yang merapat ke kios pinggir jalan. Sekedar untuk singgah sebentar. Menunggu kemacetan sedikit mereda. But hey, bisa sampai larut malam kalau harus menunggu kemacetan mereda, tapi untuk pengendara yang baru merapat beda lagi. Dua orang turun dari motor. Lelaki dan perempuan. Mereka sepertinya pasangan sekantor. Pakaian yang mereka kenakan sama. Untuk yang berpasangan, sepertinya menunggu bukan hal yang menyebalkan. Menunggu sambil minum-minuman botol dan bercanda gurau. Dunia milik berdua. Macet sampai besok pun tak apa. Tidak masalah.
Sudah pukul enam tiga puluh tepat.
Aku masih melihat keluar jendela. Sekarang lebih fokus melihat ke arah taman kota. Betapa ramainya. Aku hampir lupa, sekarang malam minggu. Seperti lirik lagu dangdut, malam minggu malam yang panjang. Memang benar, setelah seminggu kehidupan hanya kantor-pulang-kantor lagi, seakan hidup sudah kebeli pekerjaan. Malam minggu seperti inilah yang menjadi malam hiburan bagi warga kota ini.
Pada malam-malam tertentu, pemerintah kota ini menyediakan hiburan rakyat, entah itu musik atau wayang. Waktu itu aku pernah menonton wayang bersamanya. Ketika itu diceritakan kisah dua sejoli yang melegenda sampai sekarang, Rama dan Sinta. Di mana Rahwana, Raja negeri Alengka, sangat ingin memperisteri Sinta. Sedangkan pada saat itu, Sinta sudah menjadi istri Rama. Tekad Rahwana untuk mempersunting Sinta sudah bulat, tidak peduli dengan status Sinta yang telah menjadi istri Rama. Cara jahat pun diambil oleh Rahwana, dengan cara menculik Sinta. Rencana itu pun berhasil, Rahwana berhasil menculik Sinta.
Selama tiga tahun Sinta disekap oleh Rahwana. Selama tiga tahun itu pula Sinta dirayu dan digoda untuk menjadi permaisurinya. Segala daya dan upaya diluncurkan Rahwana untuk meluluhkan hati Sinta, agar setuju untuk dijadikan permaisuri, tetapi Sinta selalu menolaknya. Sinta tidak peduli dengan harta, tahta, dan kesenangan yang ditawarkan oleh Rahwana. Sinta tetap memegang teguh janji masa depannya dengan Rama, suaminya. Sinta selalu berharap Rama akan menyelamatkannya. Setelah penantian lama. Akhirnya takdir meng-amini harapan Sinta. Rama berhasil menyelamatkan Sinta dengan bantuan Hanuman dan Wibisana- Adik Rahwana yang membelot ke pasukan Rama. Rahwana akhirnya terbunuh dalam suatu pertempuran di Alengka.
Pantas sajalah kisah mereka sangat melegenda di negeri ini. Bagaimana tidak? Bisa dilihat dari kesetiaan Sinta kepada Rama. Begitu juga dengan perjuangan Rama untuk menyelamatkan Sinta. Saat itu aku tidak menonton sampai akhir cerita. Dia sudah mengajakku pulang. Bisa sampai pagi kalau menunggu selesai, katanya. Setelah menonton pertunjukan wayang itu. Sebagai wanita, wajarlah kalau aku mendambakan seorang pria seperti Rama. Seorang pria dengan segala tekadnya memperjuangkanku. Memperjuangkan janji masa depan untuk selalu di sampingku.
“Mbak. Maaf sebelumnya. Sudah jam tujuh, gedung sudah harus dikosongkan.” Lamunanku buyar saat security gedung menegurku. Untuk kesekian kalinya, aku diminta untuk segera meninggalkan gedung. Entah kenapa, kantorku memiliki kebijakan, karyawan lembur hanya sampai jam tujuh malam, tidak boleh lebih. Alasannya agar karyawan segera pulang dan istirahat, karena besok harus bekerja kembali. Bukannya besok Minggu. Hari libur?
Aku meminta waktu lima menit, untuk merapikan meja dan tas. Security-nya baik. Mengijinkan. Sebelum aku meninggalkan meja kerjaku. Aku melihat dua remaja sedang bermesraan di sebuah bangku di taman kota depan kantorku.
Iya, di bangku taman itu.
Di bangku tempatku dulu bermesraan dengan dia. Dia yang berkata di hatinya hanya ada aku seorang. Tanpa ragu aku percaya. Seseorang yang penting dalam ceritaku ini.