Senin, 03 Februari 2014
Senja
Di bawah langit senja, ada yang menunggu dengan setia, dipenuhi segala asa.
Pada pendar senja aku menuliskan kita— yang malu saling sapa saat pertama dan pada akhirnya menimang rasa.
Senja, kita, berdua; bahagia.
Boleh menuliskan tentang senja hari ini? Sayangnya, tertutup mendung lagi.
Entah ini senja keberapa— dengan rasa yang terbilang sama, rindu semakin menghujam dada.
Hujan dan senja, sebab mendung penutup pendar dari jingga. Ada yang mengenang ketika mereka menyapa, sembari menolak kembali terluka.
Hujan dan senja. Kuberikan untukmu degub dada kiriku. Tapi itu dulu, sekarang semua bagaikan butiran debu, dan kusebut sebagai masa lalu.
Senja tak begitu cerah, meskipun tak tertutup oleh mendung. Berbanding terbalik dengan kita, dengan segala rasa yang tak terbendung.
Senja dan dia, kesatuan indah dalam rona, tempatku merajuk manja, bahkan dalam duka.
Senja tak pernah murung ketika mendung menutup ronanya. Tak usah kau bawa keluh, rindu— cukuplah goresan di dada kiriku olehmu.
Bias senja, sinar ronanya menembus kaca, menyentuh lembut kulit wajah, dia yang terindah.
Senja di ujung samudra, memberikan kehangatan bagi yang suka padanya. Cinta di jiwa manusia, memberikan ketenangan bagi yang baik padanya.
Aku adalah senja, dan kau adalah jingga yang membuatku merona.
Senja jatuh terbenam di ufuk barat, begitu juga kita yang jatuh dalam bahagia hingga pekat.
Hujan tak kunjung reda, senja pun tak akan tiba.
Sudahi saja senja hari ini. Dan biarkan aku terus merindumu lagi dan lagi.
Hujan rintik kala senja. Aku dan kamu merajuk manja, menimang bahagia.
Hujan reda saat Maghrib tiba, tanda-tanda kuasa-Nya. Seperti sesaat waktu senja, saling-pandang kita berdua.
Sudah berapa senja yang kita lewati, sembari menatap rona jingga menari-nari menunggu empunya hati.
Puaskan tatapmu akan senja sore hari, sebelum terlambat dan semua tak terbawa oleh mati.
Aku dan langit senja, ada di rona jingga di antaranya, seperti kita yang terpisah rindu membuncah, dalam dada.
Aku kehabisan kata rindu, kamu tengok saja senja di langitmu, sudah kutuliskan semua debar dada kiriku.
Kita bertemu senja lagi. Bagaimana kabar hati yang sedang menanti? Sudahkah ditinggali, atau hanya sebatas disinggahi?
Senja, tempat para pecinta menitipkan rindu yang berkecambuk di dalam dada. Rindu yang tak pernah sampai, rindu yang tak kunjung usai.
Senja, sejenak sebelum malam tiba. Malam tempatku bermimpi, pertemukan aku dengan apa-apa yang tak membiarkanku sendiri; kamu.
Lewat matamu aku melihat senja yang begitu mempesona. Bolehkah aku rebah disana, seraya menimang bahagia?
Senja. Datangnya tak pernah lama, hanya 47 detik saja. Dan kamu, pergi hanya sebentar, tapi rindu sudah menampar-nampar.
Saat senja memberi kehangatan. Jemari kita beradu dari kejauhan, merapatkan kedekatan, merajut kebahagiaan.
Senja. Kubiarkan sinar senja membelai wajahmu, selebihnya hanya aku yang memelukmu.
Senja begitu malu untuk menyapa, tertutup mendung di cakrawala. Tak perlu banyak kata dan makna, mencintalah dengan sederhana.
Senja di ujung samudra, memberikan kehangatan bagi yang suka padanya. Cinta di jiwa manusia, memberikan ketenangan bagi yang baik padanya.
Senja di ufuk cakrawala, menyajikan keindahan bagi yang melihatnya. Cinta di hati manusia, memberikan kebahagiaan bagi yang merasakannya.
Bernama senja, indah sinarnya. Secercahnya kuapit untukmu, yang akan menambah indah tatapan matamu, kepadaku.
Senja datang tak pernah bosan dipandang. Berjalanan bersama bayang yang masih diangan.
Senja. Mengingatkan ku akan kamu. Seketika aku merasa rindu, masa yang berlalu.
Senja. Keindahan yang tak berkata, tak tertulis. Tak heran, para pecinta menitipkan rindu padanya.
Pernah ada senja dahulu. Senja yang begitu memikat takjubku. Senja yang pergi tak terburu; Indah matamu.
Senja. Semacam perpisahan yang indah. Seandainya, semua perpisahan seindah senja.
Indahnya senja terbalut rindu. Ketika hanya ada bayangmu, dalam renungku.
Merindu di batas senja. Menahan segala rasa. Aku disini untuk setia. Menunggu dengan luka.
Kubawa sinar senja untukmu. Agar kamu tahu, ada aku, yang merindumu. Hingga dalam.
Berjalan perlahan melirik keluar jendela. Senja bersinar indahnya, menyeret awan dalam pendar jingganya.
Ketika senja. Hanya satu hal yg ingin ku lakukan ketika bersamamu: Memeluk dan Mencium keningmu dan berkata "I love you".
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 comments:
Posting Komentar