Rabu, 22 Agustus 2012

Begitulah adanya.

Seperti alunan detak jantungku.
Tak bertahan melawan waktu.
Dan keindahan yang memudar.
Atau cinta, yang telah hilang.

Tak ada yang abadi.

Biarkan, aku bernafas sejenak sebelum hilang.
Takkan selamanya tanganku medekapmu.
Takkan selamanya raga ini menjagamu.

Jiwa yang lama segera pergi.
Bersiaplah para pengganti.


Peterpan, Tak ada yang abadi. 
Itulah lagu yang menggambarkan aku saat itu, dimana Tuhan memanggilku darinya, dari semua. Saat itu aku baru merasakan mencintai seseorang dengan sepenuh hati, dengan sepenuh jiwa. Tetapi waktu terlalu kuat. Ku tak bisa melawan, aku kalah, bukan lagi mengalah.

Setelah kepergianku. Cintaku tak hilang, aku bawa melayang. Tetapi ada yang berbeda, jauh berbeda, keindahan cinta memudar, tidak lagi memancar. 

Kamu. Ya, kamu.
Aku tetap memeperhatikanmu, dari jauh.
Hingga jauh.
Nafas telah berhenti, bukan sejenak lagi.
Aku pergi, tidak untuk kembali. 
Bukan di dunia.
Tak ada yang abadi, seperti cerita ini.
Yang tertuliskan "Kita".
Aku telah mati, tapi cintaku tetap disini.
Kutitipkan cintaku, kepadamu.

Ada aku, kamu.
Sekarang, aku menunggu seseorang lagi, yang aku sebut "Dia".
Seseorang sebagai penggantiku, untukmu. Dia yang akan selalu mencintaimu, mungkin lebih dari aku.
Ketika dia telah datang. Aku tau, mungkin kamu tidak akan mengingatku lagi, mungkin. Itu hanya pikirku.
Tapi mungkin itu baik untukmu, tidak mengingatku lagi. Terjauhlah kamu dari sedih, menangis setiap hari, karenaku.
Walau ingin ini selalu memintamu mengingatku, menangis karenaku. Ya, karena dengan itu, aku tahu kamu merindukanku.

Sudahlah.
Tak ada yang abadi. Begitulah adanya.

0 comments:

Posting Komentar

 
 
Copyright 2011 by Idhamsyah