Minggu, 23 September 2012

Berdamai, bukan melupakan.

Terkadang, kita menyalahkan masa lalu di kehidupan sekarang. Terkadang kita masih terbayang akan kejadian di masa lalu yang berdampak di kehidupan sekarang.
Masa lalu tidak pernah salah, dia tidak bermaksud untuk membuatmu sedih, dia tidak bermaksud untuk mengambil kebahagiaan yang kamu punya, dia sama sekali tidak ingin. Namun apa daya dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika saat itu Tuhan berkendak, dia harus menuruti, tanpa bisa menolak sedikit pun.

Sama halnya seperti aku, kamu, mereka. Kita semua pasti pernah merasakan kesedihan di masa lalu, kita pernah merasakan keputusan Tuhan yang berbeda dengan harapan, tetapi itu bukan akhir dari segalanya, masih banyak orang yang lebih merasakan sakit daripada yang kita rasakan. Kamu pernah diputusin seseorang? Bagaimana dengan meraka yang diceraikan. Kamu pernah ditinggal pacar tanpa alasan yang jelas? Bagaimana dengan mereka yang ditinggal pergi untuk selamanya. Kamu pernah diberi harapan palsu? Bagaimana dengan mereka yang hidup tanpa harapan.

Banyak orang yang lebih sakit, lebih menderita, lebih apa pun dari yang kita rasakan, kita cuma sibuk dengan urusan kita sendiri, kita terlalu sibuk mengeluh dengan apa yang kita rasakan, sehingga kita tidak tahu bahwa banyak yang lebih menderita daripada kita.

Kamu pernah diputusin? Aku pernah merasakan lebih dari sekedar diputusin.
Kamu pernah diberi harapan palsu? Aku pun juga pernah merasakan sakit hati lebih dari harapan palsu.

Cobalah berdamai dengan masa lalu, bukan melupakannya. - Tere Liye.
Apa pun yang kita lakukan, bagaimana pun kita berusaha, masa lalu akan selalu ada di pikiran, akan selalu ada di angan. Masa lalu akan selalu menjadi bagian hidup kita, kita tidak dapat menghapusnya.

Kejadian di masa lalu yang kurang berkenan, seharusnya bukan menjadi penghalang untuk terus maju, untuk terus membuka ruang di dunia yang sementara ini, apakah sisa hidup kita hanya dilakukan untuk meratapi, mencoba melupakan atau, melawan ketika masa lalu datang?
Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, bukan sebagai penghalang. Jadikan masa lalu sebagai reminder untuk kita, sebelum kita mengambil keputusan ataupun, melangkah.

Ketika aku menulis ini, aku pun sedang bergulat dengan masa laluku--masa lalu yang jauh sebelum aku mengenal blog, jauh sebelum aku mengenal iPhone, yang mungkin kalian orang baru di hidupku tidak tahu tentang apa itu. Mereka (read: masa lalu) datang dan pergi sesukanya, mereka seperti hantu; antara ada dan tiada.
Memang begitu mudah menuliskan: Berdamailah dengan masa lalu, bukan melupakan. Namun prakteknya tidak semudah itu. Memang benar, tapi apakah aku, kamu atau, mereka adalah satu-satunya orang yang ingin berdamai dengan masa lalunya, tentu tidak, banyak berjuta orang di luar sana yang ingin berdamai dengan masa lalunya, banyak pula yang merasakan masa lalu lebih menyakitkan dari apa yang kita rasakan. Kita tidak sendiri, tidak seorang diri. Jangan mengeluh atas apa yang tidak kita rasakan sendiri, banyak orang yang merasakan, walaupun kita tidak saling mengenal, tidak saling bertatap wajah, namun kita punya tujuan yang sama, berdamai dengan masa lalu.

Semoga aku, kamu, mereka bisa sesegera mungkin berdamai dengan masa lalunya. Membuka ruang baru di kehidupannya.

Berdamai, bukan melupakan.

3 comments:

lala mengatakan...

karena memaksa lupa adalah cara lain untuk membuatmu terus ingat. ingat mantan, cie!

Syahdham mengatakan...

Heh!!! Kok bisa ke mantan loh, itu postingan buat orang yang masih (terus) dibayang-bayangi kisah di masa lalu. Kisah di-PHP-in misalnya.

radita surya nugraha mengatakan...

e cie cie cie

Posting Komentar

 
 
Copyright 2011 by Idhamsyah