Menurut saya, kita tidak bisa lari dari hukum sebab-akibat, semua di bumi ini bermula dari sebab-akibat; sebab ada yang menciptakan, akibatnya kehidupan itu ada, sebab kita menyakiti, akibatnya kita akan disakiti di kemudian hari, sebab kita bayar tukang becak, akibatnya tukang becak mengantar kita ke tujuan, coba salah satu kita hapuskan, sebagai contoh akibat kita hapus, kita bayar tukang becak, terus tukang becaknya bilang "Silahkan genjot sendiri, Kakak", kan jadi salah kaprah.
Some cause that make some effect happen.
So, jangan menyakiti bila kita tidak ingin disakiti, bukan berarti kita mendo'akan orang lain untuk mendapatkan akibat buruk, karena tanpa kita dido'akan pun, kemungkinan mendapatkannya tetap ada, tapi kalau orang baik walaupun sudah disakiti akan tetap mendo'akan yang terbaik untuk orang yang menyakiti, dan semoga kita bisa selalu berbuat baik, yang berakibat kita akan menerima kebaikan, bukan berarti kita pamrih, tanpa kita pamrih pun, kita akan menerima balasannya, karena Tuhan pun telah menyatakan “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (biji atom), niscaya dia akan menerima (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah (biji atom) pun, niscaya dia akan menerima (balasan)nya.”, cukup jelas, bukan?
—
Tidak lama setelah saya publish tulisan ini, ada yang bertanya seperti ini di Twitter:
Kebaikan dan keburukan itu sesuatu yang berbeda nilainya untuk setiap orang, saya akan memberi contoh kebaikan yang dilakukan seseorang, yang bisa jadi kejahatan untuk orang lain.
Read slowly
Polisi adalah penegak hukum, yang berarti kebaikan, dan ketika polisi menegakkan kebaikan, ada beberapa orang yang tidak suka, yang biasa kita sebut penjahat—kita ambil contoh copet, polisi tidak mau tahu apa yang mendasari copet melakukan kejahatannya, tapi siapa tahu copet melakukan itu untuk kebaikan keluarga di mana keluarganya harus makan di hari itu, tapi copet melakukannya dengan cara yang menurut polisi itu adalah kejahatan, dan bisa juga menurut copet, polisi itu penjahat karena menghalanginya berbuat yang menurut dia itu kebaikan untuk keluarganya.
Atau yang lebih simple.
Banyak orang menyebut pekerja seks itu tidak baik, tapi bisa saja menurut dia itu baik, karena untuk membantu ekonomi keluarga.
—
Jadi menurut saya, semua kembali ke keadaan kita, bagaimana kita memilih cara untuk melakukan kebaikan tersebut, kalaupun itu tidak menjadikan kebaikan untuk orang lain, setidaknya kita sudah melakukan hal benar menurut apa yang kita yakini, kembalikan semua kepada-Nya, Dia Yang Maha Tahu.

1 comments:
so true. but unfortunately, there's no causal relationship, My Babe with brain :*
Posting Komentar