Sebelum sempat aku menyerahkan semua hatiku padanya.
Sebelum sempat mulut ini memanggil namanya.
Kematian datang menjemputku.
Merenggutku dengan paksa, dari dunia.
Dari dirinya.
Sekolah.
Lembut kuamati sosoknya yang sedang berjalan dengan tatap kosong.
Perlahan dihelanya nafas dalam-dalam.
Hanya dengan mendapatinya seperti ini saja.
Aku sudah lega dan bahagia.
Tak ada lagi air mata di pipinya sejak hari itu.
Mungkin aku egois, karena kadang aku ingin air matamu tetap mengalir.
Karena hanya dengan begitu aku tau kau memikirkan aku selalu dalam hidupmu.
Bisa aku lihat, kemarahan dan kesedihan masih ada disana.
Di dalam sendu matanya.
Aku berjanji.
Akan menemanimu sampai saatku tiba, hingga masaku habis.
Aku takkan pernah meninggalkanmu.
Masih saja aku mengamatinya tanpa lelah.
Malah semakin damai.
Meski tak sedetikpun aku dapati rautnya tersenyum, semenjak hari itu.
Sejujurnya tak ada yang lebih aku takutkan lagi dalam hidup ini.
Selain kehilangan dirinya dan semua tentangnya yang sempat aku miliki.
Kamarnya.
Terdiam sambil duduk di dekat tidurnya.
Menemaninya yang sudah terlelap dibuai mimpi.
Beberapa saat berlalu
Bintang mulai meredupkan kerlip sinarnya.
Meninggalkan aku yang akan selalu disini, di sisinya.
Perlahan aku berjalan menghampiri jendela sambil melirik keluar.
Matahari hampir bersinar terang, menyeret awan dalam pendar jingganya.
Aku terus menatapinya.
Tampak sisa-sisa airmata di pelupuknya.
Wajahnya yang lembut terlihat begitu lelah.
Aku mengulurkan tanganku mencoba mengusap airmatanya, tapi urung kulakukan.
Karena aku tak bisa, sama sekali tak boleh.
Keadaan ini semakin menyayat pilu segala sesalku.
Tuhan.
Betapa aku ingin mengusap air mata yang saat ini perlahan jatuh dipipinya.
Tapi.
Tangan ini terlalu dingin.
Terlalu hampa.
Aku hanya bisa bersimpuh menatapnya, sambil menahan ngilu.
Betapa sang waktu tak mau membiarkan aku selalu disampingnya.
Sekali lagi mendapati wajahnya dengan airmata tentangku.
Membuat aku semakin risau dengan gelora yang seharusnya tak boleh aku miliki, yang sempat aku kenal dengan nama 'Cinta'.
Andai saja aku punya waktu lebih lama untuk menemanimu tertawa bahkan menangis.
Andai saja aku dapat menolak segala hal yang membuatmu sedih.
Andai saja aku dapat menolak saat Sang Kematian datang menjemputku ..
Andai saja.
Tuhan.
Kumohon dengar dan kabulkan inginku yang terakhir.
Berikan kebahagiaan untuknya.
Terlalu perih batin ini jika sering melihat dan membiarkannya menangis.
Datangkan penggantiku yang bisa mendamaikan hatinya dan memberikan bahagia untuknya.
Perlahan aku bergerak mendekati wajahnya.
Membelai pelan pipinya yang basah dengan airmata.
Lalu mengecup samar keningnya.
Aku terus menatap wajahnya
Menghafal setiap detail indahnya, agar jika sepi nanti, rindu tak bergemuruh lagi di dadaku.
Aku terus merekam parasnya dalam ingatanku sebelum akhrnya aku meninggalkannya bersama pagi yang siap menggigit kulit.
Tenanglah sayang.
Sepanjang umurmu.
Aku takkan pernah membiarkanmu sendirian di dunia ini.
Ingatlah.
Di langit, diantara kerlap kerlip bintang.
Disana aku terus mengawasimu dari jauh.
Dan menjagamu selamanya dari Surga.
Rabu, 22 Agustus 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
3 comments:
Orang bilang terus mengenangmu malah memberatkan jalanmu menuju Tuhan. Apa ini adil jika kamu terus memandangku sedang aku tak tak pernah tahu. Bisa bilang ini kepada Tuhan? Kudengar kau begitu dekat denganNya saat ini.
Bagus kata-katanya. :))
Sulit ya menebakmu.
:) atau :)) misalnya.
Posting Komentar